Kamis, 01 Januari 2015



ELANG 
Rinai hujan membasahi buku SBMPTN yang Elang gunakan untuk menutupi kepalanya, ia segera berlari ke lorong kampus terkemuka di Yogyakarta. Suara lelah nafasnya yang memburu membuat dadanya kembang kempis. Kini ia duduk di kursi panjang koridor depan kelas. Sambil sedikit menyapu wajahnya yang basah diguyur hujan. Hari ini adalah hari terakhir sejak dua hari yang lalu untuk tes masuk universitas nasional. Elang sangat berharap dapat diterima menjadi mahasiswa disana, meskipun selain mengikuti tes SBMPTN sebelumnya ia telah mengkuti tes masuk sekolah penerbangan yang lebih ketat dan bertahap panjang, mulai dari tes fisik, pengetahuan, psikologi, kesehatan dan yang terakhir adalah wawancara., Elang tinggal menungu hasil tes yang dia jalani itu. Bel masuk tanda ujian akan dimulai telah berdering, segera seluruh peserta berhambur masuk ke dalam kelas. Tanpa suara, kelas itu hening, hingga mungkin masing – masing peserta dapat mendengar degup jantung peseta lainya. Maklum saja, ujian saringan masuk universitas pilihan Elang ini terkenal sangat sulit, hinga harus membuang ribuan peserta.
2 jam berlalu.
Wajah lega dari seluruh peserta yang sedikit – demi sedikit keluar meningalkan kelas. Elang sedikit ribet dengan buku dan bajunya yang basah terkena hujan. Sambil berjalan menyusuri koridor kampus, Elang merapikan buku yang ada di tangannya. Tiba – tiba Bruk elang menabrak seseorang . seraya berserakan buku yang ia rapikan tadi.
“maaf mas , saya ngga tau , saya nga sengaja” ,suara kalem seorang wanita terdengar iba melihat buku Elang yang banyak jatuh berserakan, segera ia berlutut membantu mengambili buku Elang.
“iya mbak ngga papa kok , saya tadi juga ngga liat soalnya”, Elang hanya sedikit melirik wanita itu , lalu kembali berkutat dengan buku – bukunya yang masih jatuh di sana – sini.
“ya udah mbak terimakasih , saya duluan ya”, Elang kini melangkah menjauhi wanita itu.
“Assalamualaikum”, wanita itu baru menjawab. Jawaban itu membuat Elang menghentikan langkahnya dan berbalik , namun wanita itu telah menghilang entah kemana. Meninggalkan kesan keanggunan dan kesantunan yang baru benar – benar diakuinya. Wanita berjilbab ungu muda berhias bunga melati kecil di dada kirinya Elang masih bisa mencium bau wangi melati itu dalam bayanganya. Gamis dengan warna senada menawarkan kesan elegan namun sederhana, menambah anggun.
 “Sempurna”, batin Elang. Segera Elang tersadar dari lamunan tentang kejadian lima menit yang lalu, dan berlari ke arah halte di depan gerbang kampus. Dengan 5000 rupiah bis kota bisa membawanya pulang ke kampung halaman, Bantul. Ingin hatinya segera menemui Bapak , Ibu nya yang sudah ia tinggalkan sejak 2 hari yang lalu karena harus menginap untuk menghemat tenaga dan biaya, terlebih Elang menginap di tempat saudaranya yang rumahnya tepat bersebelahan dengan kampus pilihanya.
Elang adalah anak tunggal dari ayah seorang pejabat desa dan ibunya ibu rumah tanga di desa Bantul. Hidupnya berkecukupan namun sederhana. Ia anak yang patuh dan pandai dalam hal akademis. Sejak SD sudah terlihat bakatnya dengan selalu menjadi nomor satu di kelasnya. Elang merupakan anak yang mudah bergaul sehinga wajar saja ia memiliki banyak teman dan cepat akrab dengan orang yang baru ia kenal.
Hari pengumuman SBMPTN
Elang terbangun , seketika itu ia mengucek matanya yang masih enggan untuk terbuka.
“jam 4 pagi”, begitu batinya setelah melirik jam dinding di kamarnya. Segera ia menyabet laptop yang ada di meja belajarnya. Rasa gusar menghampiri hatinya, pikiran negatif dan positif berkecamuk di otaknya. Takut namun ingin segera tahu , berhasil atau tidak ia masuk ujian tersebut. Dengan tangan gemetar Elang mengetikan alamat web tempat pengumuman akan dipampang melalui media sosial. Kaki dan tanganya terus saja bergerak – gerak , menandakan ada rasa gugup yang teramat sangat dan semakin hebat mengingat web tersebut masih loading, maklum rumahnya sedikit terpencil sehingga sinyal tidak segampang itu bisa didapat modemnya.
Hinggamasuk nomor ke 60 masih belum juga menemukan namanya tertulis di pengumuman itu, Elang semakin pesimis. Pencarian berlanjut hingga sampai pada angka 200. Matanya terhenti pada salah satu nomor.
“209 Elang Mahayudha Management dan Bisnis”, dengan mata berbinar  ia segera berdiri melompat – lompat diatas kasur bergambar chelsea, klub sepak bola idamannya. Segera setelah itu ia berhambur keluar kamar sambil berteriak kegirangan.
“tok tok tok pak , buk bangun aku diterima masuk SBMPTN buk...buk pak bangun “, Elang mengetok pintu kamar ayah ibunya yang masih tertutup tanda bahwa si empunya masih terlelap. Dengan wajah sayu ibu dan bapaknya membuka pintu kamar. Bagaimanapun juga teriakan Elang mau tidak mau membangunkan mereka.
“ Elang, kamu tidak tau sopan santun? , kamu tau ini jam berapa?, “ ayahnya sedikit marah.
“bapak, ibu maaf , aku diterima masuk universitas buk , pak?,” Elang menyampaikan masih dengan wajah yang sumringah. Ibu Elang langsung memeluk anak semata wayangnya yang begitu membanggakan.
“syukurlah , tidak sia – sia kerja kerasmu selama ini sampai begadang malam – malam belajar”, ibunya sangat merasa bangga, begitu juga dengan penuh bangga ayahnya menepuk nepuk bahu Elang.
Hari ospek seminggu setelah pengumuman.
Elang segera bangun pagi, kala itu waktu menunjukan pukul 4 pagi, Elang sholat subuh kemudian berlanjut dengan prosesi mandi. Memakai seluruh atribut yang disarankan, kali ini ia diantar oleh ayahnya memakai mobil takut telat akibat macet yang sering terjadi di area sekitar kampus. Akan sangat memakan waktu bila harus berangkat menggunakan bis kota. Sampai di gerbang kampus Elang berpamitan kepada ayahnya. Ia segera berlari menuju area berkumpul mahasiswa yang ospek. Kali ini ia lolos karena dapat datang lebih pagi dari yang dijadwalkan. Disana ia mendapatkan teman baru dari banyak luar kota, mudah saja ia mendapatkan teman baru karena sifat Elang yang supel dan mudah bergaul. Ospek berakhir pada pukul 3 sore hari , gurat lelah terpancar di wajah Elang ,namun ia tetap kelihatan bersemangat karena bahagia bisa masuk universitas terbaik di Indonesia. Baru saat pulang Elang naik bis kota untuk menghemat biaya. Ospek berlanjut hingga empat hari, dan Elang dapat melewati nya dengan lancar, walaupun sering kena hukuman disana – sini.

Hari terakhir ospek , Elang pulang lebih sore lagi, karena ada acara inagurasi dengan alumni. Sampai dirumah elang menghamburkan badan ke kasurnya. Peluh membasahi sebagian kemeja putih yang dipakainya. Ia memejamkan mata, lega . namun ia segera bangkit, teringat bahwa hari ini adalah pengumuman penerimaan peserta didik di Afiation Dirgantara. Segera ia mengambil laptop dan mengetikan alamat web pengumuman ditampilkan. Namun tidak seresah kemarin, kini ia lebih tenang karena jika tidak diterima ia kini telah bersekolah di universitas terbaik. Pilot adalah cita – citanya sejak kecil. Ia terinspirasi dengan Neil Amstrong yang terbang hingga ke bulan.  Dia mencari – cari namanya di antara nama peserta yang diterima.
“Elang Mahayudha . status = diterima” . seketika itu Elang mencari ibunya di dapur, dengan baju lusuhnya ia memeluk ibu tercinta dari belakang.
“bu aku akan membawamu terbang bu”. Elang mengagetkan ibunya yang tengah sibuk meracik bumbu masakan. Ibunya masih belum mengerti arah percakapan anaknya itu.
“terbang, apanya? Kamu mau main layangan? Sudah gede kok masih mau main – main layangan”, ibu menjawab sekenanya karena ia belum mengerti maksud perkataan Elang.
“ aku bisa menggapai cita – citaku bu, aku jadi pilot”, Elang kembali mengungkapkan kebahagiannya dengan memeluk ibunya itu. Langsung saja air mata menetes dari sudut mata ibunya. Air mata keharuan. Kini cita – citanya masa kecil tercapai . memang dari postur Ealng begitu menarik , tubuhnya proposional dan tampan tentunya. Mungkin itu menjadi nilai tambah baginya.
“ ibu sangat bangga padamu, semoga kau mendapatkan kemudahan disana “, jawab ibunya sambil masih meneteskan air mata. Biarlah nanti berita ini yang akan menghilangkan rasa lelah ayahnya setelah seharian berkerja mencari nafkah. Keesokan harinya ia harus mengurus pengunduran dirinya kembali ke kampus. Dengan membawa surat dari desa dan surat penerimaannya di sekolah penerbangan ia menemui bagian TU kampus itu. Pengajuan pengunduran diri telah selesai diurus , kini ia akan kembali pulang, dengan sedikit memelankan langkahnya ia menikmati suasana kampus untuk yang terakhir kalinya, sedikit berat untuk meninggalkan teman – teman baru yang ia kenal sejak hari ospek kemarin. Namun tekadnya sudah bulat, ia memilih melanjutkan sekolahnya untuk mengejar cita – citanya menjadi pilot.
Di sekolah penerbangan itu ia tinggal di asrama selama 2 tahun , kemudian ia diharuskan mengikuti tes kelulusan terakhir. Maskapai pilihannya adalah Garuda Indonesia dan Singapore Airlines , ia berharap untuk dapat diterima diantara keduanya, karena dengan itu ia akan memiliki kesempatan besar untuk bisa masuk ke maskapai internasional lainnya. Singapura memang merupakan negara yang paling sering digunakan transit para penerbang dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia. Selama pendidikan ia tidak terlalu kesulitan mengikuti materi yang diberikan oleh pelatih, karena Elang memang salah satu murid andalan di Afiation Dirgantara.
Hari pengumuman penempatan pilot akan digelar nanti malam dalam sebuah acara semacam promp night. Pertemuan itu akan mengundang orang – orang penting di bidang penerbangan termasuk B.J Habibie, seorang pencetus ide pembuatan pesawat, atas jasa itu Indonesia berhasil menghasilkan pesawat dengan nama Gatotkaca. Pada acara itu akan diumumkan kelulusan peserta didik dan penyerahan sertifikat penerbangan serta penempatan kerja. Mereka akan langsung dipilih oleh pemilik maskai penerbangan.
Malam yang ditunggu telah tiba, bapak ibu Elang datang dari bantul untuk menyaksikan kelulusan putra satu – satunya. Elang berdandan dengan begitu rapi, jas hitam di padukan dengan dasi silver menambah kewibawaannya. Acara dimulai, pembawa acara meminta kepala sekolah penerbangan untuk membacakan siswa yang lolos dalam pelatihan selama 2 tahun tersebut. Seluruh nama telah disebutkan, namun Elang merasa namanya belum terpanggil sedari tadi, ia takut kalau – kalau dia seorang saja yang tidak lulus.
Tiba– tiba kepala sekolah membacakan pengumuman terakhir, Elang alumni dengan nilai terbaik tahun ini. Seketika ruangan di penuhi riuh suara tepuk tangan dari audience. Elang mendapat selamat dari seluruh teman – teman dan dia diarak oleh teman – temannya untuk naik ke panggung. Tidak ketinggalan ibu dan ayahnya diundang untuk naik ke panggung untuk menerima penghargaan yang diterima Elang.
“ selamat ya Elang, semoga kau bisa membawa nama baik Indonesia kembali melambung.” Begitulah pesan kepala sekolah Elang sambil menyematkan tanda kelulusan di dada sebelah kiri. Sehari setelah kelulusan Elang langsung dipangil untuk bekerja di Singapore Airlines maskai impiannya. Kini ia bekerja dengan jam terbang yang cukup tinggi dibanding teman – temannya yang lain. Pilot Elang terkenal sebagai pilot yang tampan dan berprestasi, ia sering menerima penghargaan dari pemerintah singapura atas dedikasinya. Banyak omongan sana sini dari para pramugari cantik yang tertarik dengan ketampanan pilot Elang.
Hari ini jadwal penerbangan Elang menuju Dubai. Saat landing elang segera melangkahkan kaki masuk menuju hotel. Ia ingin segera beristirahat untuk penerbangan esok hari. Namun saat menyusuri lorong kamar ia bertemu dengan seorang pramugari dari singapore yang ikut dengan pesawat yang ia kemudikan tadi.
“maaf, sedang apa anda berdiri disini”, sapa pilot Elang dengan bahasa Inggris yang lancar.
“saya kebingungan mencari kamar saya, maukah anda menemani saya mencari kamar ?”, jawab pramugari tersebut.
“tentu, mari saya antar. Boleh saya tahu nomor berapa kamar anda ?”,Elang bertanya sambil meminta kunci kamar dari pramugari tersebut.Tanpa berpikiran buruk ia langsung mengantarkan pramugari cantik tersebut, meskipun di hatinya sedikit ada perasaan tidak enak, namun buru – buru ia menepisnya. Tidak mungkin wanita secantik ini berniat buruk.
Sesampainya di kamar Elang dipersilakan duduk. Pramugari itu mengambilkan minuman dari dapur. Elang meminumnya tanpa curiga,dengan satu kali teguk minuman itu telah habis. Mereka berbincang bincang cukup lama, namun kemudian Elang merasa kepalanya berputar dan gelap.
Terik matahari masuk menyilaukan mata Elang yang sedari tadi tertidur. Dengan sedikit menyipit Elang mencoba membuka matanya dan terkaget mendapati keadaan tubuhnya polos tanpa sehelai benang, hanya selimut yang menutupi tubuhnya itu. Ia masih mencoba mengingat kejadian malam lalu, namun percuma ia tidak ingat sama sekali. Ia menemukan sebuah surat di sampingnya .
“Elang, terimakasih untuk tadi malam, sungguh kau harus segera melakukan pemeriksaan di bandara.” Itulah isi surat yang ditemukan Elang. Seketika Elang menangis meratapi nasibnya, sunguh bodoh mengapa ia tidak menyadari keanehan pramugari tersebu. Ia segera bangkit dan berlari menuju bandara, segera ia meminta untuk diperiksa oleh tim medis, dan di sana dia bertemu dengan Pilot Arman teman sewaktu di asrama dulu.
“hai Elang, kau terlihat gugup ada apa “, sapa pilot Arman, Elang menutupi kegundahannya dengan mengatakan baik – baik saja , hanya ingin check up kesehatan. Setelah ia masuk ke dalam ruangan, Elang diambil darah dan menungu kurang lebih satu jam. Arman menjadi teman ngobrol sedari tadi, sedikit menghilangkan kegelisahan hati Elang.
“dok bagaimana hasilnya”, Elang bertanya kepada dokter yang baru saja keluar dari laboratorium.
“Elang , mungkin ini hari terakhir kau bisa menjadi pilot, kau terkena HIV”, kata dokter itu langsung membuat Elang menangis bersimpuh dengan ditenangkan pilot Arman. Ia merasa karir penerbanganya telah hancur. Terlebih ia kan dijodohkan oleh ayah ibunya dengan anak teman sewaktu di SMA dulu. Ia tidak bisa membayangkan bila orang tuanya tahu ia harus kehilangan pekerjaannya dan membatalkan perjodohan tersebut. Ia masih menyesali dirinya.
“saya mau dokter dan kau Arman merahasiakan kondisiku ini, aku akan segera resign dari maskapai ini “, dengan keberanian dan keteguhan penuh ia mengatakan hal yang sebetulnya sangat ia haramkan. Kini ia putus asa tidak tau harus bagaimana menghadapi keaadan yang begitu menyulitkan. Elang pulang ke bantul dan dengan begitu ia mengakhiri profesinya sebagai pilot.
            “Assalamualaikum “, Elang mengucapkan salam dengan penuh ketidakberdayannya. Namun ia masih mencoba menutupi kesedihannya. Ibu dan ayahnya menyambut gembira, meskipun ia sedikit merasa aneh, tidak biasanya anaknya pulang dalam hari – hari kerja. Memang orang tuanya sudah tahu apabila jam terbang anaknya itu padat. Malam harinya Elang memanggil ayah ibunya berkumpul di ruang keluarga.
“Bapak ibu, saya mau memberitahukan sesuatu, saya harap ibu dan bapak mau memaafkan saya,” Elang sedikit terbendung air matanya, ia tak sanggup membayangkan betapa hancurnya perasaan ayah ibunya.
“Kenapa Elang , apa ini masalah kau tidak mau dijodohkan dengan Madina? Karena kau belum tau rupanya ? kau takut dia buruk rupa ? percayalah dia wanita cantik dan sholeha”, ibunya memberondong Elang dengan pernyataan demikian. Kata – kata ibunya semakin membuatnya merasa bersalah.
“ Bukan itu bu masalahnya, aku...aku resign menjadi pilot dan aku terkena HIV ,“ Elang mengatakan dengan mengumpulkan keberanianya yang tersisa.
“ Apa kau pulang bukannya membawa kebanggaan tapi kaupulang dengan penyakit terkutuk itu? , lalu bagaimana dengan calon istrimu Elang ? perjodohan ini harus dibatalkan , tidak mungkin Madina anak baik – baik itu harus bersuami keji sepertimu, apa yang kau lakukan di luar sana ? memang salahku tidak mendidikmu dengan benar , kau pandai tapi agamamu...? ,“ bapak Elang pergi tidak melanjutkan perkataannya menandakan kekecewaan yang amat sangat. Ibu Elang hanya menangis tidak percaya tentang apa yang terjadi kepada anaknya.
“ maafkan aku bu, maafkan aku ...kenapa Allah memberiku cobaan seperti ini bu?”, elang bersimpuh di kaki ibunya. Ibunya membimbingnya dan memeluk Elang, menenangkannya dengan menerima seluruh keadaan Elang saat itu.
“sudahlah nak , aku tau ini bukan salahmu, kau tidak perlu menjelaskan pada ibu. Ibu hanya minta kau kuat “, ibunya sambil terisak memeluk Elang.
Enam bulan sudah Elang tinggal di bantul setelah pembatalan perjodohannya dengan Madina dan membantu pekerjaan ayahnya di desa. Kini ia lebih tenang , meskipun harus menanggung beban penyakit itu. Ia tidak mau memikirkannya, ia hanya ingin memanfatkan umurnya yang tersisa.Ayahnya mungkin sedikit diam padanya, namun ia memaklumi karena luka yang disebabkannya memang sangat menyakitkan. Kini ia menjadi pribadi yang lebih khusuk setiap sore ia tak segan untuk mengaji bersama anak – anak desa yang umumnya masih sekolah tingkat dasar, ia tidak mau meratapi nasib. Penyakit itu telah membuat Elang tersadar, dunia ini bukan segalanya dan hanya Allah Sang Maha Menyembuhkan.
Pagi hari yang sejuk di Bantul.
Elang tengah menyapu halaman rumahnya yang kini sudah menjadi lebih bagus akibat renovasi yang dilakukan setahun yang lalu dengan uang hasil pekerjaannya menjadi pilot. Sesekali Elang terlihat sedih karena mengingat pekerjaan impiannya yang telah ia tinggalkan sejak enam bulan lalu. Kriiinnggg – krriiinngg deiring handphone yang ada di saku training Elang membuatnya berhenti menyapu dan segera mengambil hp nya.
“Halo Assalamualaikum, ini siapa ?”,
“Good morning Mr. Elang can you landing in Singapore tomorrow ? i hope you will ready in my office at 10.00 AM.”
“Oh are you Mr. Egtamba ? okay sure i do.” Mr .Egtamba adalah kepala maskapai tempat Elang bekerja. Elang sedikit ragu, ia takut kalau Mr. Egtamba menanyakan lebih lanjut tentang alasan pengunduran dirinya. Terlebih Mr.Egtamba lah yang paling sedih kala itu harus ditinggalkan oleh pilot berbakat seperti Elang. Segera Elang menyiapkan kepergiannya ke Singapura dan memesan tiket untuk keberangkatannya esok hari.
Keesokan harinya.Setelah 4 jam akhirnya Elang telah sampai di Singapura tepat pukul 09.00 pagi. Ia segera menyewa taksi untuk mengantarkannya ke kantor pusat maskapai Mr. Egtamba. Sesampainya di kantor Elang segera menuju ruangan kepala maskapai, belum ia menemukan ruangan Mr. Egtamba ia telah dikejutkan oleh kepala Maskapai yang terkenal sangat ramah itu.
“Hai Elang, apa kabar ?”, tanya Mr Egtamba dalam bahasa Inggris mengagetkan Elang. Wajah Elang memucat, ia benar – benar takut semua akan tahu jika dia ODHA.
“Hello Mr, ada masalah apa kau memanggilku tiba – tiba ?” , tanya Elang dengan sedikit terbata.
“Mari kita masuk ke ruanganku saja, ada masalah penting yang harus aku beritahukan pada mu”,jawab Mr Egtamba sambil membimbing Elang masuk ke dalam ruangannya. Mr. Egtamba mempersilahkan Elang untuk duduk.
“Begini Elang, aku sudah tahu alasan mu sebenarnya mengapa kau tiba – tiba meminta resign dari pekerjaan impianmu ini”. Dengan serius Mr Egtamba memulai pembicaaraan.
“Maafkan saya, saya benar – benar dijebak oleh pramugari itu. Maafkan saya Mr, saya mohon jangan beritahukan masalah ini kepada rekan – rekan. Saya tidak mau keluarga saya bertambah malu dengan informasi tersebut”.
“Kenapa bisa kau sebodoh itu?” Mr. Egtamba kembali bertanya dan membuat Elang semakin merasa bersalah ia hanya tertunduk lesu. Kepasrahan nampak di kedua bola matanya, ia sudah tidak perduli dengan pekerjaan pilotnya itu.
“Kau masih juga bodoh Elang. Kemarin pramugari itu datang kepadaku, ia menjelaskan semuanya. Memang tidak terjadi apa – apa diantara kalian. Dia juga mengaku bahwa ia bebas dari HIV. Ia hanya menuruti perintah orang yang ingin karirmu hancur, dan kemarin aku telah memecat mereka semua”. Penjelasan Mr Egtamba mengagetkan sekaligus membuat Elang lega. Beban yang ada di hatinya kini dilolosi sepenuhnya. Elang segera melakukan sujud syukur kepada Allah Sang Maha Agung. Air matanya tak juga berhenti, malah bertambah karena rasa harunya.Mr Egtamba menjelaskan kembali bahwa dokter di bandara dan temannya sendiri pilot Arman yang bersekongkol untuk menjatuhkan Elang. Pilot Arman iri dengan keberhasilah dari Elang menjadi pilot terbaik di Singapore Air Lines.
“Sepertinya kau perlu belajar lagi, kau terlalu mudah dibohongi Elang. Tidakkah kau berfikir bahwa HIV hanya akan dapat dideteksi setelah 5 tahun kemudian, bukan hanya sehari langsung kau terinfeksi HIV. Ternyata dibalik kepiawaianmu mengendalikan pesawat dan kepandaianmu selama ini kau masih membutuhkan pengetahuan tentang penyakit itu. Sekarang ku kira kau tidak sepandai diriku”, Mr Egtamba tertawa puas mengetahui kelemahan pilot andalannya , yang juga membuat Elang tertawa.
“Jadi minggu depan kau bisa terbang lagi dengan pesawatku,” Mr Egtamba menyalami Elang. Kedua kalinya Elang tersungkur bersujud di ruangan Mr Egtamba.
“Terimakasih Mr, aku akan bekerja dengan baik, dan tidak akan mengulangi kebodohanku.” Elang mengucapkan rasa terimakasihnya dengan amat kepada kepala maskapai itu, sekaligus berpamitan pulang ke Indonesia. Elang kini pulang dengan wajah lega, ia segera mengabari kedua orang tuanya. Sampai dirumah Elang disambut hangat dengan kedua orangtuanya, namun terlihat ada orang lain selain mereka berdua. Elang segera memeluk kedua orangtuanya.
“ Assalamualaikum Elang, “. Elang mendengar ucapan salam dengan suara yang sepertinya sangat familiar. Elang segera melepaskan pelukan kepada orang tuanya dan berbalik badan.
“subhanallah ,kamu? Kenapa bisa disini ?” Elang takjub dengan kecantikan wanita yang sebelumnya telah ia temui ketika di kampus dulu. Ia adalah wanita yang ditabrak Elang selagi membawa buku setelah ujian SBMPTN. Ibu elang menjelaskan kedatangan mereka adalah untuk melanjutkan acara perjodohan yang sempat dibatalkan kemarin. Elang sangat bahagia, ia tidak menyangka Madina adalah wanita yang selama ini ia kagumi keanggunan dan ke sholehannya dan kini akan menjadi istrinya.
“kau tidak menolak dijodohkan denganku?, kamu tahu juga kan pilot bekerja dengan wanita – wanita cantik di luar sana ,kau tidak cemburu akan hal itu Madina?”, Elang bertanya akan kesediaan Madina menerima segala keadaannya.
“aku hanya mengikuti isyarah yang sudah ditunjukkan kepadaku lewat doa dan istikharah ku selama ini. Aku yakin kau jodoh yang dikirimkan Allah kepadaku. Aku akan selalu berdoa agar kau selalu dalam lindungannya, aku percaya padamu “, jawab Madina.
Lengkaplah sudah kebahagiaan Elang. Kini ia kembali menjadi pilot dan memperoleh istri yang sholeha. Elang merasa bahwa tiada yang tidak berguna di dunia ini, penyakit sekalipun mampu membawa hidayah dan anugrah yang luar biasa. Lewat insiden HIV itu Elang menjadi tahu pentingnya ia menjaga jarak dengan wanita yang bukan muhrim, karena penyakit mematikan itu akan siap untuk menghampiri para pezina tanpa tahu apa obatnya.

0 komentar:

Poskan Komentar